Pemerintah Tingkatkan Akses Listrik di Daerah 3T

03 Sep 2025 • 05:25 Redaksi

Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan pemerataan akses listrik di daerah-daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal (3T) melalui program Listrik Desa (Lisdes) 2025-2029. Program ini bertujuan menjangkau lebih dari 5.758 desa yang belum teraliri listrik PLN, mencakup sekitar 1,2 juta rumah tangga.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, dalam keterangannya pada Selasa (2/9/2025), menekankan pentingnya program ini sebagai wujud kehadiran negara untuk masyarakat pelosok. “Program ini dapat membuka kesempatan lebih luas bagi pendidikan, ekonomi, dan layanan kesehatan yang lebih baik,” ujarnya.

Dalam upaya melistriki daerah 3T yang memiliki akses sulit, pemerintah mengombinasikan sambungan “on grid” dan “off grid”. Sistem “on grid” menggunakan panel surya yang terhubung dengan jaringan PLN, sementara “off grid” adalah sistem mandiri yang tidak terhubung dengan PLN, cocok untuk daerah terpencil.

Pada Juni lalu, Presiden Prabowo Subianto telah meresmikan 55 pembangkit listrik energi terbarukan, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), yang tersebar di 15 provinsi dengan kapasitas total 379,7 Megawatt. Proyek-proyek PLTS perdesaan kini memasuki tahap konstruksi hingga pertengahan 2025.

Menurut Yuliot, rasio elektrifikasi nasional telah mencapai sekitar 99,83% pada akhir 2024. Oleh karena itu, Lisdes 2025-2029 difokuskan untuk menyelesaikan kantong-kantong desa yang belum teraliri listrik. Program Listrik Perdesaan ini adalah penugasan pemerintah kepada PT PLN (Persero) untuk melistriki seluruh pelosok desa, yang hingga akhir 2024 telah menjangkau 83.693 desa dan kelurahan di Indonesia.

Image Source: Kementerian ESDM

Redaksi
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya