Upaya Meningkatkan Kesehatan Masyarakat NTB Terus Berlanjut
Info Lotara – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menunjukkan keseriusan dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Berbagai program strategis, seperti penurunan stunting, penguatan skrining penyakit melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG), dan penanganan TBC, menjadi fokus utama di tahun 2026.
Menurut laporan evaluasi yang dilakukan pada Triwulan I-2026, angka prevalensi stunting di NTB mengalami penurunan yang signifikan menjadi 12,88 persen. Ini jauh lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan sebelumnya, yaitu 17,5 persen.
Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM.MARS, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, menjelaskan bahwa pencapaian ini merupakan hasil dari intervensi yang diterapkan secara konsisten melalui dua pendekatan utama: intervensi spesifik dan sensitif. “Intervensi langsung di sektor kesehatan berkontribusi 30 persen yang difokuskan pada imunisasi, pemberian ASI eksklusif, dan pola asuh. Namun, intervensi tidak langsung yang mencakup akses air bersih dan sanitasi layak memberikan kontribusi lebih besar, yakni 70 persen,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Dinas Kesehatan juga mengoptimalkan program Desa Berdaya sebagai strategi utama. Di dalamnya, dilakukan pemantauan ketat di 10 desa setiap kabupaten/kota, termasuk pemberian telur bagi balita dan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tantangan dalam Nutrisi dan Lingkungan
Walaupun angka stunting menurun, tetap ada tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal nutrisi dan pengaruh lingkungan. Kadinkes mengungkapkan kekhawatiran mengenai makanan siap saji yang mengganggu pemenuhan standar gizi balita. “Kami berupaya memastikan setiap balita yang mengalami masalah gizi mendapatkan pendampingan yang tepat. Edukasi tentang lingkungan sehat terus kami gencarkan, agar masyarakat bisa menghindari ketergantungan pada makanan instan,” tambahnya.
Cek Kesehatan Gratis (CKG): Hak Semua Warga
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), yang diluncurkan sebagai bagian dari Program Hasil Tercepat Presiden pada Maret 2025, kini tengah digalakkan di seluruh NTB. Pada tahun 2026, target pencapaian adalah 2,663 juta jiwa atau 46 persen dari total populasi NTB mendapatkan layanan skrining kesehatan ini.
Layanan CKG mencakup berbagai kalangan, dari bayi hingga lansia, yang dapat diakses melalui Puskesmas, Pustu, Posyandu, serta kegiatan komunitas. “CKG berfungsi untuk mendeteksi risiko penyakit secara dini dan merupakan hak setiap warga untuk mendapatkan layanan kesehatan gratis,” tegas Kadinkes.
Perang Melawan Tuberkulosis
Selain fokus pada stunting dan CKG, penanganan Tuberkulosis (TBC) juga menjadi perhatian. Pada tahun 2025, ditemukan 61 persen kasus baru dari target 90 persen. Meskipun fasilitas pengobatan telah dioptimalkan, tantangan terbesar adalah pengawasan minum obat yang sering terputus.
Dinas Kesehatan menerapkan strategi “Terapi Pencegahan” untuk anggota keluarga pasien TBC. “Sering kali, anggota keluarga yang merasa sehat tidak mau mengikuti pengobatan pencegahan, padahal itu sangat penting. Kami berharap dengan program unggulan 40 Desa Berdaya Siaga TBC, desa-desa ini bisa bebas dari TBC ke depannya,” pungkas Kadinkes.
Dengan penekanan pada penemuan kasus, pengobatan, dan terapi pencegahan, Dinas Kesehatan Provinsi NTB optimis dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan mandiri.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
